Saturday, May 4, 2013

Pahlwan Revolusi G30SPKI


Jendral Ahmad Yani


Tempat Tanggal Lahir : Purworejo, 19 Juni 1922
Jabatan Terakhir  : Menteri/Panglima Angkatan Darat(Men/Pangad)
Riwayat Hidup :  


    Pendidikan
  • HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935
  • MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
  • AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
  • Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
  • Pendidikan Heiho di Magelang
  • PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
  • Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat, tahun 1955
  • Special Warfare Course di Inggris, tahun 1956


    Bintang Kehormatan
  • Bintang RI Kelas II
  • Bintang Sakti
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
  • Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
  • Satyalancana G: O.M. I dan VI
  • Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
  • Satyalancana Irian Barat (Trikora)
  • Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain-lain.

Mayor Jendral Pandjaitan


Tempat Tanggal Lahir : Balige, 19 Juni 1925
Jabatan Terakhir : Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad)
Riwayat Hidup :  

       Pendidikan

          Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

       Kemiliteran

         Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

           Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.

        Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi. 

          Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.


Jendral Suprapto


Tempat Tinggal Lahir : Purwokerto, 20 Juni 1920
Jabatan Terakhir : Letnan Jendral
Riwayat Hidup  :

       Pendidikan

               Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.

       Kemiliteran

               Selama di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut.

               Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia sering berpindah tugas. Pertama-tama ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang. Dari Semarang ia kemudian ditarik ke Jakarta menjadi Staf Angkatan Darat, kemudian ke Kementerian Pertahanan. Dan setelah pemberontakan PRRI/Permesta padam, ia diangkat menjadi Deputy Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera yang bermarkas di Medan. Selama di Medan tugasnya sangat berat sebab harus menjaga agar pemberontakan seperti sebelumnya tidak terulang lagi.


Mas Tirtodarmo Harjono


Tempat Tinggal Lahir : Surabaya, 20 Januari 1924
Jabatan Terakhir : Mayor
Riwayat Hidup :  

       Pendidikan

               Pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat.

       Kemiliteran

               Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

               Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.


Letnan Jendral Siswondo Parman


Tempat Tinggal Lahir : Wonosobo, 4 Agustus 1918
Jabatan Terakhir : Letnan Jendral
Riwayat Hidup :

       Pendidikan

               Pendidikan umum yang pernah diikutinya adalah sekolah tingkat dasar, sekolah menengah, dan Sekolah Tinggi Kedokteran. Setelah tidak bisa meneruskan sekolah kedokteran, ia sempat bekerja pada Jawatan Kempeitai. Di sana ia dicurigai Jepang sehingga ditangkap, namun tidak lama kemudian dibebaskan kembali. Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja pada Jawatan Kempeitai.

       Kemiliteran

                Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulan Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta.

                Selama Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang dengan melakukan perang gerilya. Pada bulan Desember 1949, ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Salah satu keberhasilannya saat itu adalah membongkar rahasia gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang akan melakukan operasinya di Jakarta di bawah pimpinan Westerling. Selanjutnya, pada Maret 1950, ia diangkat menjadi kepala Staf G. Dan setahun kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan pada Military Police School.

              Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan untuk beberapa lama kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London, Inggris pada tahun 1959. Lima tahun berikutnya yakni pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal.



Brigadir Jendral Katamso Darmokusumo


Tempat Tinggal Lahir : Sragen, 5 Februari 1923
Jabatan Terakhir : Brigadir Jendral
Riwayat Hidup :

       Kemiliteran

             Katamso memulai karir militernya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, yakni pendidikan para militer bentukan Jepang. Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan ia bergabung dengan TKR dan diangkat sebagai Komandan Kompi di Klaten. Katamso bersama pasukannya seringkali terlibat pertempuran dengan tentara Belanda pada saat Agresi Militer Belanda Berlangsung.

              Katamso pernah ikut terlibat dalam Operasi Merdeka Timur di bawah pimpinan Letkol Soeharto. Operasi militer tersebut digelar untuk menumpas gerakan pemberontakan batalyon 426 yang menyatakan bergabung dengan DI/TII di bawah pimpinan S.M. Kartosuwiryo.

            Demikian juga pada waktu terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta, Katamso diangkat menjadi Komandan Batalyon A Komando Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani. Selanjutnya, Katamso diserahi tugas sebagai Kepala Staf Resimen Tim Pertempuran (RTP) II Diponegoro di Bukit Tinggi. Tugas utamanya ketika itu melakukan pembersihan, penumpasan, dan menjaga keamanan wilayah dari gerombolan pengacau keamanan.

                 Dari Bukit Tinggi ia kembali dipindahtugaskan sebagai Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus dengan tugas yang sama. Setelah Sumatera kembali aman, ia ditarik ke Jakarta dan menjabat sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infantri (Pusdikif) di Bandung.

             Tahun 1963, Katamso diangkat menjadi Komandan Resort Militer (Korem) 072, Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta. Katamso juga aktif dalam membina dan memberikan latihan militer kepada Resimen Mahasiswa (Menwa) untuk mengantisipasi ancaman PKI yang saat itu sedang berupaya untuk melakukan perebutan kekuasaan.


Mayor Jendral Sutoyo Siswomiharjo


Tempat/ Tanggal Lahir : Kebumen, 23 Agustus 1922
Jabatan Terakhir : Mayor Jendral
Riwayat Hidup :

       Pendidikan
  • Pendidikan Umum 
    • [HIS] 
    • [MULO]B 
    • AMS]B
  • Pendidikan militer
    • Kursus C Seskoad 
    • Kursus Milat

       Jabatan
  • Ajudan Dandiv  V
  • Kabag Organisasi Resimen PT Purworejo
  • Kepala Staf CPM Yogyakarta
  • Dan CPM Den II

Nah, sekian info dari saya...

Selamat Menikmati dan Terima Kasih :)

No comments:

Post a Comment